Mukernas GPdI 2015

Musyawarah Besar adalah forum tertinggi Gereja Pantekosta di Indonesia yang diadakan setiap 5 tahun sekali menetapkan Garis Besar Program Kerja (GBPK) dan memilih Majelis Pusat GPdI. Garis Besar Program Kerja hasil Musyawarah Besar GPdI merupakan amanah organisasi,

Paskah Bersama Hamba-hamba Tuhan Wilayah IV

Cirebon. Dalam rangka memperingati hari Paskah 2014, para Hamba Tuhan yang tergabung diwilayah Indramayu, Cirebon Kuningan, majalengka dan sekitarnya mengadakan acara sehari bertemakan “ Bersama Melayani Tuhan” yang diadakan di Prima Resort Kuningan Jawa Barat pada Selasa 27 Mei 2014.

Pertemuan Majelis Wilayah dan MD Jabar

Cianjur, 18 Pebruari 2013, Majelis Wilayah IV Jabar GPdI, menghadiri Pertemuan dengan Majelis Daerah yang dihadiri oleh seluruh Personil MD dan Seluruh MW se Jawa Barat. Pertemuan dipimpin langsung oleh Ketua MD Jabar GPdI Bpk. Pdt. JE. Awondatu.

Natal Regional Majelis Daerah GPdI Jabar

Diakhir Tahun 2014, Majelis Daerah Jawa Barat Gereja Pantekosta di Indonesia (MD GPdI Jabar), mengadakan kegiatan Natal bersama Hamba-hamba Tuhan beserta Jemaat se Jawa Barat, namun ada yang berbeda pada kegiatan Natal Tahun ini dimana biasanya diadakan serempak pada satu lokasi, kali ini sedikit berbeda hal itu terlihat dari nama atau kemasan acara yang dinamai dengan “ Natal Regional Majelis Daerah GPdI Jabar “

Youth Rally Day Paskah 2015 KW IV Pelprap

Kuningan, Komisi Wilayah Pemuda (KW Pelpap), bergabung dengan Komisi Wilayah Remaja (KW Pelrap) wilayah IV GPdI Jabar mengadakan acara sehari dalam rangka peringatan Paskah, yang diberi nama Youth Rally Day Paskah, bertempat di The Mountain Recreation park Kuningan Cirebon Jawa barat pada Jumat 01 Mei 2015.

Tampilkan postingan dengan label True Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label True Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 April 2014

Alm. Benny Longkutoy " Setia Sampai Akhir Hayat "

Terlahir sebagai seorang anak Gembala, pasangan Pdt. Yan Berty Longkutoy dan Yuliana (keduanya kini sudah almarhum) di kota kecil Kuningan-Jawa Barat, Benny Benjamin Longkutoy  anak ke dua dari 6 bersaudara, selepas mengikuti Pendidikan Sekolah Alkitab di Beji angkatan 35, 37 melanjutkan Pengembalaan Pelayanan pekerjaan Tuhan di GPdI “EFERATA” Kuningan Jawa Barat, dimana sebelumnya sempat berpraktek di GPdI Beth Eden Kemayoran Jakarta selama 2 tahun, selama 14 tahun menjadi seorang Gembala Sidang di kota tersebut didampingi seorang istri bernama Novita Iskandar memiliki dua orang anak,  yang pertama bernama Paul Christopher Reinhard Longkutoy sekarang sedang kuliah di salah satu universitas di Jakarta dan anak kedua Verrel Longkutoy (almarhum), Benny Longkutoy dikenal sebagai Hamba Tuhan yang multi talenta, selain sebagai Gembala Sidang, Mantan Sekretaris Majelis Wilayah IV GPdI Jabar, Biro Diakonia MD Jabar,Ketua Bamag Kuningan, sebagai Guru di beberapa Sekolah Alkitab di Indonesia, Penginjil dan pencipta lagu-lagu Rohani, Penginjilan yang pernah dilakukan tidak hanya di dalam negeri bahkan sampai ke luar negeri, dalam setiap lagu yang ciptakan hampir semuanya, menceritakan atau bertemakan tentang kesetiaan seorang hamba Tuhan sampai akhir hidupnya melalui setiap syair yang di nyanyikan Seolah-olah Tuhan sudah berbicara dan mempersiapkan sedemikian rupa apa yang akan dialaminya lewat lagu-lagu yang dia buat, dan ternyata sampai akhir hidupnya, dia tetap setia dalam melayani Tuhan. 

Benny & Istri
Tahun 2009, Benny divonis terkena penyakit diabetes miletus. Dalam sakitnya harus menjalani operasi mata yang disebabkan oleh diabetes tersebut dan pada tahun 2012 tepatnya pada tanggal 27 Oktober beliau divonis oleh dokter mengalami gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah seminggu 3x ketika mendengar vonis dokter tersebut di usia nya yang masih tergolong muda yaitu 47 tahun, Benny merasa bahwa kehidupan nya sudah berakhir sampai disitu begitu banyak Pelayanan penginjilan yang harus dilakukan ke beberapa kota di dalam negeri bahkan di luar negeri dan tugas-tugas didalam kepengurusan Majelis Daerah GPdI Jabar, dia merasa bahwa semuanya telah terhenti sedemikian rupa dengan vonis penyakit tersebut, dunia seakan runtuh karena di saat dia sedang semangat-semangatnya melayani Tuhan, ternyata harus terkena dan alami penyakit yang sangat parah secara manusia Benny sempat mengalami tekanan yang luar biasa kenapa Tuhan hal ini terjadi dalam hidupku? namun ternyata Tuhan punya rencana yang lain untuk nya, meskipun dalam keadaan fisik yang tidak memungkinkan beliau untuk beraktifitas, ternyata Tuhan masih mau memakai menjadi HambaNya Benny berusaha untuk bangkit dan berjuang, perjuangan demi perjuangan harus dijalani demi kemajuan pelayanan pekerjaan Tuhan di Kuningan. Dalam keadaan fisik yang lemah tetap memiliki semangat untuk melayani Tuhan, eminggu 3x menjalani cuci darah belum lagi harus menjalani beberapa kali operasi, ada sekitar 6 x Benny harus tergeletak di meja operasi, bahkan beberapa kali harus dirawat di rumah sakit baik di RS. Medistra Jakarta maupun RS.Pertamina Cirebon namun hal itu tidak menyurutkan dia untuk tetap berusaha tegar dan selalu memberiklan senyuman dalam melaksanakan pelayanan yang dipercayakan padanya, hari-hari dijalani sekalipun dengan menahan rasa sakit yang luar biasa Benny tetap selalu berserah kepada Tuhan dan dalam sakitnya, tetap melakukan pekerjaan sebagai seorang Gembala. 

Kel Alm. Benny Longkutoy
Setiap hari Minggu Benny tetap khotbah melayani jemaat, juga nalurinya untuk menciptakan lagu-lagu pujian rohani tidak bisa dihentikan sekalipun sakit penyakit terus menggerogoti  tubuhnya, bahkan tetap semangat untuk melatih paduan suara untuk perayaan Natal. Sebagai seorang pelatih paduan suara, benny pernah melatih paduan suara di salah satu gereja di Amerika dan berhasil menjadi juara 1 dalam festival paduan suara tersebut suatu prestasi yang patut dibanggakan. Selain itu dalam setiap kegiatan gereja yang harus dilayani oleh seorang gembala, dia tetap memimpin acara-acara tersebut walaupun harus melayani dengan keadaan fisik yang begitu lemah yang secara manusia tidak mungkin bahkan sampai berjalan tertatih-tatih dan beberapa kali sampai jatuh,namun dia yakin Tuhan akan selalu menyertainya, karena Benny  sangat mengasihi dan mencintai pelayanan dan pekerjaan Tuhan yang Tuhan percayakan dalam hidupnya saat itu.
Pernah suatu hari tepatnya tanggal 12 Oktober 2013 ketika Pagi-pagi Benny, hendak bersiap-siap untuk melayani , dia terjatuh sampai akhirnya tidak dapat berdiri dan berjalan waktu itu, namun dia bersikeras untuk tetap berkhotbah di hadapan jemaat sekalipun harus duduk di kursi roda, semangat Benny tetap berapi-api karena sayangnya dia kepada jemaat Tuhan,  esok harinya pun Benny bersikeras untuk melayani dan memimpin sebuah acara yang cukup besar yang diadakan oleh salah satu  jemaat dari awal sampai akhir, walaupun masih tetap dengan bantuan kursi roda, ternyata itulah hari-hari terakhir Benny Benyamin Longkutoy bersama Jemaat dan Pelayanannya. 

Suasana Pemakaman
Hari Sabtu tanggal 19 Oktober 2013 ,kaki Benny terlihat bengkak yang disebabkan karena keracunan dari gagal ginjalnya keluarga secepatnya berusaha membawa Benny ke rumah Sakit untuk memeriksakan kondisinya, malam hari sekitar pukul 00.45 Minggu,tanggal 20 Oktober 2013, Tuhan berkehendak lain Benny menghembuskan nafas terakhirnya pulang ke pangkuan bapa di Surga di rumah sakit Cirebon meninggalkan isteri dan anak serta keluarga dan Jemaat, semangat dan kesetiaan almarhum sampai akhir hidupnya itulah yang telah menginspirasi isteri anak dan keluarga khususnya juga Jemaat yang ditinggalkan,untuk tetap setia sampai akhir, Kini tongkat estafet Pelayanan GPdI Eferata Kuningan diteruskan oleh isteri Almarhum, Novita Iskandar (40),  “ saya harus melanjutkan perjuangan Almarhum Suami saya ” demikian ucap Novi, “ Sebagai seorang wanita yang harus menggembalakan sidang jemaat yang Tuhan Percayakan, secara manusia saya tidak mampu tetapi saya harus berjuang untuk melayani pekerjaan Tuhan di Kuningan,yang seharusnya semua pelayanan ini dikerjakan oleh suami saya, namun kenyataan yang ada bahwa saya harus berusaha untuk bangkit mengalahkan rasa kehilangann saya yang begitu mendalam, saya yakin saya tidak sendiri ada Tuhan Yesus yang sanggup menolong saya dalam menggembalakan sidang jemaat di GPdI Eferata kuningan.”

By. Yra





Senin, 17 Maret 2014

Sejarah GPdI Anugerah Sindanglaut

Cirebon- Keberadaan Gereja Pantekosta di Indonesia “ Jemaat Anugerah “  (GPdI Anugerah) Sindanglaut, tahun ini memasuki usia pelayanan yang ke 43 tahun sejak berdirinya pada tanggal 21 September 1971 hal itu tidak lepas dari perjuangan doa dan air mata yang sejak awal  dirintis oleh Pieters Hallatu muda ( Piet ) saat itu, pria Kelahiran Amahai Maluku Tengah 05 Mei 1945 selesai mengikuti Pendidikan Sekolah Alkitab Piet  demikian panggilan akrab Pieters Hallatu, diutus pihak Sekolah sebagai Pengerja (Praktek Membantu Pelayanan disebuah Gereja)  di GPdI Trifina, saat itu masih disebut dengan GPdI Talang Cirebon, tempat Penggembalaan Pdt. Lontoh Alm.

Selepas menjalani masa praktek Piet memutuskan untuk membuka ladang baru, atau merintis pekerjaan Tuhan di daerah tidak jauh dari Cirebon tempatnya berperaktek, yaitu di Sindanglaut diawali hanya melayani dua keluarga saat itu kel. Jhoni Pangalila dan kel. Yosef Tupan, dengan setia Piet melayani mereka sampai akhirnya tidak lama kemudian Tuhan memberikan seorang Pendamping untuk Piet, seorang gadis keturunan Tionghoa, Elna Kwee asal kelahiran Purwodadi, mereka memutuskan untuk menikah dan melayani bersama-sama dibendang Tuhan hingga Tuhan karuniai mereka Putra dan Putri dari hasil pernikahan yaitu Helena Christine Deasie Hallatu lahir 25 Desember 1976, dan Dicky Yance Hallatu lahir pada 10 Desember 1978.
Pertumbuhan Jemaat.
Jemaat GPdI Sindanglaut dari Tahun ketahun semakin bertambah dan mengalami pertumbuhan pesat untuk itu tempat Ibadah sempat berpindah – pindah rumah kontrakan dari kontrakan satu ketempat kontrakan lainnya sampai lebih kurang tujuh kali mereka harus berpindah tempat, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Piet dan Istri serta Jemaat untuk tetap beribadah dan Melayani Tuhan mereka menggumuli itu semua dalam doa siang dan malam kepada Tuhan, untuk satu tempat Ibadah yang permanen, Puji Tuhan Akhirnya Tuhan Jawab Doa mereka pada Tahun 2000 GPdI Sindang laut membeli sebuah rumah di Jl. Raya Cipeujeuh Wetan No. 43b seharga Rp. 60.000.000 dari seorang anak Tuhan, dan merenofasi total rumah tersebut pada tahun itu juga hingga menjadi Gedung Gereja saat ini, dengan total biaya sebesar Rp. 250.000.000 hasil Swadaya Jemaat dan donatur, sejak itulah Gereja Pantekosta di Indonesia Sindanglaut berganti nama menjadi “ GPdI Anugerah “ Sindanglaut.

Doa Pelantikan Gembala oleh: MD Jabar GPdI
Sertijab GPdI Anugerah Sindanglaut.
Pdt. Pieters Hallatu saat ini berusia 69 Tahun, tentunya dengan usia yang tidak lagi muda ditambah lagi dengan keterbatasan fisik akibat penyakit yang sudah lama dideritanya, sedangkan pelayanan Pekerjaan Tuhan harus tetap terus berlanjut maka pada tanggal 18 Maret 2013 bertempat di GPdI Anugerah Sindanglaut diadakan acara serahterima Jabatan Penggembalaan (Sertijab), dimana sebelumnya Pdt. Pieter Hallatu mengajukan permohonan kepada Majelis Daerah Jawa Barat untuk melantik dan menetapkan Pdm. Dicky Yance Hallatu (Anaknya), bersama Istri Pdm. Steiny Tasik sebagai Gembala Jemaat  setempat menggantikan dirinya. Dengan dihadiri oleh Anggota Majelis Daerah saat itu Pdt. Edy Tampi (Biro Penggembalaan) Pdt. Jeffry Palit ( Biro Organisasi ) dan Pdt. Hesky Rorong ( Biro penginjilan ) dan disaksikan oleh pengurus Majelis Wilayah IV juga Hamba – hamba Tuhan serta undangan didepan Jemaat GPdI Anugerah Sindanglaut, pelantikan tersebut dilaksanakan.

Kel. Pdm. Dicky Y. Hallatu.
Profil Gembala
Pdm. Dicky Yance Hallatu menyelesaikan Sekolah Alkitabnya di Sekolah Alkitab Beji.  Angkatan. 45 Tahun 1999-2000 dan Angkatan. 48 Tahun 2002-2003. Didampingi Istri bernama Pdm. Steiny Tasik, mereka dikaruniai dua orang Anak Putra bernama Natanael Zefanya Hallatu dan Putri bernama Nataniel Zilgwyn Hallatu.
                Saat ini Jemaat GPdI Anugerah sedanglaut merenovasi lagi  gedung gereja yg akan dimulai dalam waktu dekat dikarenakan jemaat semakin bertambah dan  Gedung gereja sudah tidak  muat untuk menampung jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan, sesuai dengan kerinduan Gembala dan jemaat GPdI Anugerah Sindanglaut yaitu menjadi Umat Tuhan yang bertumbuh, berakar dan berbuah lebat.    




By: Yra
        

Rabu, 13 November 2013

“ 3 Kali di Resolusi Ormas Radikal, Namun Tuhan selalu Bela… “

Ada kalimat lagu Lama yang berbunyi :  “…slama Hamba masih bernafas, hamba tetap jadi pengerjaHu…, jikalau nyawaku terlepas, memandang wajah Tuhan ku…”  sepertinya lagu ini begitu memberikan spirit bagi Hamba Tuhan muda ini, Pdt. Noldy Manorek suami dari Natalina Aryani yang melayani di GPdI “  Jemaat Sion “ Jl. Pilang Cirebon.
                Pengalaman sebagai Hamba Tuhan tidaklah semudah apa yang dibayangkan saat masih duduk dibangku Sekolah Alkitab Balikpapan kelas satu ak XXV, dan kelas dua di Sekolah Alkitab Cianjur angkatan XII, ayah dari Shella,  lebih lanjut menceritakan kesaksian dimana Kuasa Tuhan sungguh nyata dan ajaibucapnya, saat dijumpai dikawasan perbelanjaan di kota Cirebon beberapa waktu yang lalu.

Awal Pelayanan
Setelah selesai menamatkan pendidikan di Sekolah Alkitab Cianjur, Noldy Manorek ditempatkan pihak sekolah untuk menjalani masa peraktek di GPdI Trifina, Jl. Talang Cirebon pada Th 2000 sampai pertengahan Th 2003, dan selepas praktek beliau mencoba membuka perintisan, yaitu mencari Jiwa-jiwa untuk dilayani, waktu itu status masih lajang, sekalipun Jemaat belum banyak dan hampir sebagian besar mereka adalah Simpatisan dari berbagai Gereja, namun tidak menyurutkan semangat untuk tetap mencari dan melayani Jiwa-jiwa, saat itu setiap Hari selasa kami beribadah, belum hari minggu karena jemaat hari Minggu mereka Ibadah di Gereja Masing-masing dan itu berjalan selama enam bulan, demikian ungkapnya, sampai akhirnya pada bulan Oktober 2003 mulailah kami melaksanakan Ibadah setiap hari Minggu sekalipun saat itu yang hadir ibadah hanya satu orang dia adalah, Istri saya sekarang ini, sampai akhirnya kami menikah dan diberkati di GPdI Jemaat Sion,  oleh Bpk. Pdt. Ernest Kiling, ( Wakil Majelis Daerah Jawa Barat, saat itu ) pada 18 Agustus 2007.
Pdt. Noldi, Isteri & Anak
Tantangan dalam Melayani
Untuk melaksanakan Ibadah kami mengontrak rumah,  yang saat itu sangat sederhana tidak besar hanya 2,5 X 3m, dan belum satu Tahun kami pakai tempat itu, tantangan datang kami didatangi oleh Ketua Rt/Rw dan warga yang menyatakan keberatan ada  Ibadah dilingkungan tempat kami Kontrak dan segala bentuk kegiatan Gereja harus Berhenti, itu terjadi Bulan Mei 2012 sejak saat itulah kami beribadah dari Rumah ke rumah Jemaat, sampai 9 kali kami harus berpindah-pindah karena alami penolakan, harus berhenti beribadah dari Ormas Radikal yang saat itu mereka merasa tidak suka kami beribadah, kami sempat berhenti beribadah selama satu bulan dan selama itu kami beserta jemaat hanya bisa Berdoa dan berpuasa kepada Tuhan, saya percaya kalau Dia yang sudah memulai suatu pelayanan maka saya percaya tidak ada satu Kuasapun yang sanggup menutupnya!!! Saya bersyukur atas Jemaat yang Tuhan Percayakan untuk saya layani, justru mereka tambah semangat mengiring Tuhan, mereka tidak sedikitpun kecewa dengan keadaan seperti ini ,justru mereka giat tidak kendor dalam mengiring Tuhan dan itu yang membuat kami semakin dihiburkan dan dikuatkan, saya sebagai Gembala merasa bahwa saya tidak sendiri dalam menghadapi ini, saya merasakan ada dukungan dari jemaat.
Pada Pertengahan Maret 2013 kembali Tempat Ibadah kami di Resolusi oleh Ormas yang sama, Hari Jumat Malam sekitar Pkl. 19.00 Wib kami tidak lupa hari itu, mereka kembali datang untuk menyampaikan ketidaksukaannya kami beribadah dan mereka melarang kami untuk melakukan Ibadah di hari Minggu, kembali diperhadapkan dengan situasi demikian secara manusia kami merasa kecewa, namun kami serahkan sama Tuhan, Jemaat heran kenapa hari minggu tidak ada Ibadah, setelah kami jelaskan mereka mengerti dan tetap bersemangat mencari cara bagaimana untuk tetap bisa beribadah kepada Tuhan di hari Minggu, kami melakukan lagi Ibadah dari rumah ke rumah, pernah suatu saat kami adakan ibadah Raya atau Ibadah Hari Minggu itu dibawah Pohon Mangga di area Gelanggang Olah Raga ( GOR ), supaya tidak mencolok dan dilarang, Saya juga Jemaat menyamar seperti Orang-orang yang sedang Berolahraga senam pagi, lalu kami duduk-duduk dan mulailah beribadah dan itu berhasil, dan itu kami lakukan selama kurang lebih 2-3 Bulan. sedemikian beratnya kami harus beribadah di negri ini, namun saya percaya apapun yang Tuhan ijinkan pasti ada maksud yang baik, ada Berkat dibalik Salib demikian keyakinannya.

Tuhan Tidak Berdiam diri
Sampai suatu saat saya bertemu secara tidak sengaja dengan seorang Bapak pemilik Toko alat-alat Teknik di Kota Cirebon, dia bukan Jemaat kami beliau dari aliran Gereja lain saat saya hendak membeli keperluan bangunan saya melihat Salib terpajang didalam Tokonya, lantas saya berkenalan dan memperkenalkan diri bahwa saya Pendeta dari Manado dan melayani di Cirebon, saat mendengar saya dari Manado Bapak ini kaget dan dia berkata “ saya pernah tinggal di manado..” dari situlah kami bercerita panjang lebar, minggu berikutnya saya kembali ketokonya dan diajak masuk kedalam rumahnya ke lantai 2 yang masih kosong tidak dipakai, kemudian saya memberanikan diri berkata pada Beliau “ ini ruangan ini kosong pak, apa boleh kita pakai untuk berdoa…? ” dengan sukacita Pemilik toko ini berkata “ O silahkan pak Pdt, emang saya rindu tempat ini digunakan untuk berdoa, sudah saya tawarkan kepada hamba Tuhan untuk memakai tempat saya ini, tapi tidak ada yang merespon…”  saat mendengar penuturan pemilik rumah, saya sangat gembira mendengarnya inilah jawaban dan Pembelaan Tuhan atas apa yang terjadi selama ini dalam Pelayanan kami, hingga saat ini kami pakai tempat tersebut dengan Cuma-cuma, tidak harus Kontrak lagi, Jemaat sangat senang dan makin bersemangat karena dapat beribadah dengan bebas ditempat yang baru dan tidak harus berpindah-pindah lagi. Puji Tuhan.

Diakhir perbincangan, Pdt. Noldy Manorek memberikan Tips bagi para perintisan yang mengalami hal yang sama dengan apa yang pernah dialaminya yaitu tetaplah melayani, biar satu jiwa layani saja dan apapun juga tantangannya jangan pernah berputus asa apalagi menyerah, ingat panggilan Tuhan atas diri kita yaitu sebagai Hamba Tuhan setialah dan layani Tuhan sampai akhir. Lebih lanjut Noldy manorek mengutup Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 5:4 “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita “  Iman yg bertindak akan mengalahkan dunia, Tuhan Pasti Bela kita pungkasnya. 




Rabu, 17 Juli 2013

Pelajaran Berharga Buat Istri Juga Suami


Ilustrasi
Bagi yg sudah pernah baca, luangkan waktu untuk baca sekali lagi Ini adalah cerita sebenarnya ( diceritakan oleh Lu Di dan di edit oleh Lian Shu Xiang )

Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka,tetapi segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah menghianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama .Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah. Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari,tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata :"Mari,kita jemput nenek di kampung". Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana.. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan.Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu. Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek:"Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira."Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa:  "Ibu, ini kebiasaan orang kota , lambat laun ibu akan terbiasa juga." Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga,dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga  bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil  menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya ,ini berapa.Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras.Suamiku memencet hidungku sambil berkata:"Putriku, kan kamu bisa berbohong... Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik. Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan  sendok, itulah cara dia protes. Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya; dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya.Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik. Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali  lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masukke kamar sambil membanting pintu dan menangis.Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata:"Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu bisa membuatmu mati?" Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana mejadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku,  seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri? Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata:"Lu di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata  tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku..Dan dia akhirnya berkata:"Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi.."Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua.Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut... Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!. Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh..suamiku segera mengejarnya keluar rumah. Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek. Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Lu Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter."Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu? Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku  ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung..."Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit.. Mulutku terbuka lebar.Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam hati:"Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?" Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian.Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika........ ......dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.

Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah. Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jangtungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka. Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..... ...., semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah. "Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu.Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu.2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya:"" Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya"" .Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar. Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."" Lu Di, kamu hamil?"" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku.. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar dengan derasnya. Aku menjawab:""Iya, tetapi tidak apa-apa.. Kamu sudah boleh pergi"".Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan.  Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku.Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali. "Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:"Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya. Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas. Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........ . , itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?

Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah. Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia? Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya. Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya...aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk.

Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer. Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara. ....Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami."Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah. """Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun -tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai"".Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku.""Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya"" .

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya".Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum... ......... ...anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata........ . ......... ...sahabat terkasih, aku sharing cerita ini kepada sahabat, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah pesan dari cerita ini :"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup...!!


Di Posting di FB Oleh:  Hein Hero Mamangkey

Senin, 13 Mei 2013

Arti Kesetiaan


Ini cerita nyata, beliau adalah Bapak Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dalam memajukan industri Reksadana di Indonesia. Apa yang diutarakan beliau adalah sangat benar sekali.

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.


 

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas sore dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari, ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-kata: “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya: “Anak-anakku… Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah.. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian. Sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.”

“Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno. Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan mereka pun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa.

Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita..” Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan”.

“Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”  by yra

Sabtu, 27 April 2013

Kisah Yu Yuan

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah “saya pernah datang dan saya sangat penurut”.

Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak lebih dari 540.000 US yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana ‘papa’nya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah ‘papa’nya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.



Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.



Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”. Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini”. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang. Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.

Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya ? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudia berkata : “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. “Tolong,….. “. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakata ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

“Saya pernah datang, saya sangat patuh”, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 Agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.

Di Kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah ..…”. Demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.



30 November 1996 - 22 Agustus 2005

Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 November 1996 - 22 Agustus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, Nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Adik Yu Yuan, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata ‘Aku pernah datang dan aku sangat patuh’ ”.

Sumber : Yu Yuan True Story

Rabu, 10 April 2013

Edwarda's Story


Seorang ibu meninggal slth 38 thn merawat putrinya yg koma

Wanita berusia 80 tahun itu selama berpuluh-puluh tahun merawat putrinya yang mengalami koma.

Sampai akhirnya ibu penuh kasih itu meninggal, mendahului putrinya yang hingga saat ini masih terbaring dalam koma berkepanjangan.

Kaye O'Bara menutup mata untuk selamanya di rumahnya di Miami Gardens, Florida. Kamar yang selama ini ditempatinya bersama putrinya, Edwarda sejak 1970 silam. Kaye meninggal dalam tidurnya. Dia telah bertahun-tahun menderita penyakit jantung.

Semasa hidupnya Kaye pernah berjanji tak akan pernah meninggalkan Edwarda yang ketika itu masih remaja. Janji itu dimulai sejak Edwarda jatuh koma akibat penyakit diabetesnya 38 tahun yang lampau.

"Kami kira dia akan hidup melampaui kami semua. Wanita itu begitu kuat," kata keponakan Kaye, Pamela Burdgick seperti dilansir harian News.com.au, Sabtu (8/3/2008).

Selama kurun waktu 38 tahun, kisah pengabdian Kaye kepada putrinya, Edwarda menarik simpati banyak orang. Para pengunjung yang jumlahnya tak terhitung lagi mendatangi rumah Kaye. Bahkan ada pula sebagian orang yang datang dari Jepang untuk ikut merayakan ulang tahun Edwarda.

Kisah Kaye telah dituangkan dalam buku laris karya Dr. Wayne Dyer yang berjudul A Promise Is A Promise: An Almost Unbelievable Story of a Mother's Unconditional Love and What It Can Teach Us.

Edwarda, penderita diabetes, mengalami flu sebelum Natal 1969. Beberapa hari kemudian kondisinya memburuk dan orangtuanya, Kaye dan suaminya, Joe, membanya ke rumah sakit.

Beberapa saat sebelum Edwarda kehilangan kesadarannya, remaja putri itu sempat bertanya kepada ibunya: "Janji ibu tidak akan meninggalkan saya, janji ya?" Kaye pun berjanji tidak akan pernah meninggalkan anak perempuannya itu.

"Promise you won't leave me, will you, Mommy?"

"Of course not, I would never leave you, Darling,
I promise. And a promise is a promise!"

Itulah kata-kata terakhir yang disampaikan Kaye sebelum anaknya koma berkepanjangan. Dan Kaye menepati janjinya.

Kaye dengan teratur membalik tubuh putrinya tiap dua jam supaya tidak mengalami nyeri akibat berbaring terlalu lama. Kaye memberinya makan berupa campuran makanan bayi dan susu bubuk melalui tube, menyuntikkan insulin, memutar alunan musik, membacakan buku untuk Edwarda dan tak lelah berdoa di samping tempat tidur Edwarda supaya suatu hari nanti putrinya itu akan sadar kembali.

Bagi Kaye, mengurus putrinya itu bukanlah beban, melainkan berkat. Kaye sangat yakin, Edwarda akan terbangun. "Bagi saya, dia hampir sadar. Kadang-kadang saya merasa mendengar dia bicara: Ibu, saya baik-baik saja," kata Kaye kepada media AS, Miami Herald beberapa waktu lalu.

Namun kini Kaye telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan Edwarda yang masih terbaring koma entah sampai kapan. Adik Edwarda, Colleen O'Bara mengatakan, keluarga akan terus merawat Edwarda di rumah mereka. Sama seperti Kaye, Colleen juga yakin kakaknya itu akan sadar suatu hari nanti.

Suami Kaye, Joe mengalami serangan jantung pada tahun 1972 dan meninggal dunia empat tahun kemudian. Sejak itu, Kaye mengurus Edwarda dengan menggunakan tunjangan sosial dari pemerintah dan dana pensiun suaminya, ditambah lagi dengan sumbangan dari orang-orang.

 Sumber: http://www.edwardaobara.com/